Orang yang Baik

Kita menjumpai bermacam-macam orang di lingkungan kita. Mereka yang menyenangkan kita. Mereka yang membuat kita sebal. Mereka yang menjadi sahabat kita. Mereka yang selalu berselisih dengan kita.

Banyak orang yang bersinggungan dengan keseharian kita. Sehingga mau tidak mau, kita akan berjumpa dengan orang, yang baik dan tidak baik.

Bisakah kita membedakan mana orang yang baik dan mana yang tidak baik? Bagaimana cara Anda membedakannya?

Cara termudah melihat seseorang baik atau tidak adalah dari melihat perilakunya. Orang yang baik hatinya, akan berperilaku santun, menjaga kata-katanya, menjaga pikirannya, dan menjalin hubungan yang tulus dan baik dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak baik, akan senantiasa mengucapkan perkataan yang menyakitkan hati, berseteru dengan orang lain, atau berprasangka buruk.

Namun, bukankah kita tidak boleh “menilai buku dari sampulnya”?

Ya, memang. Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Penampilan luar bukan hanya sekadar pakaian yang dikenakan, tapi juga perilaku yang dapat ditangkap oleh mata kita. Kita memang tidak dapat mutlak menilai seseorang itu baik atau tidak dari penampilan luarnya saja. Namun, kita juga tidak dapat memungkiri bahwa apa yang tampak dari luar itulah yang membuat seseorang mendapatkan label.

Kita tentu sering melihat bagaimana seorang guru membedakan mana murid yang baik dan mana yang tidak. Murid yang baik adalah yang pendiam, duduk mendengarkan kalau guru sedang mengajar, dan lebih lagi kalau murid itu pandai. Sementara murid yang tidak baik adalah yang nakal, gaduh, suka berkelahi, tidak mau mendengarkan, dan sebagainya. Guru mungkin tidak peduli bagaimana perilaku kedua murid itu kalau di rumah.

Bagaimana dengan orang yang tampak baik di luarnya saja, tapi ternyata hanya berpura-pura?

Yang membedakan seseorang itu benar baik atau hanya berpura-pura adalah dari ketulusannya. Orang yang tulus, akan tetap sama baik dalam segala situasi. Dia akan menjadi pribadi yang sama dalam suka maupun duka. Ada kesesuaian antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Sementara itu, orang yang berpura-pura seperti memiliki dua pribadi yang berbeda. Dia muncul saat masa gembira, lalu tidak peduli saat masa sedih. Selain itu, hati, pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak sejalan.

Jadi, orang yang baik adalah…

Mereka yang baik perilakunya dan itu semua bersumber dari hatinya. Orang semacam ini adalah orang yang tulus berbuat baik dan akan selalu menjadi baik kapanpun kita menjumpainya. Meskipun dilanda kesusahan sekalipun, dia tidak akan berubah karena kebaikan itu sudah mengakar kuat di dalam hatinya. Orang seperti ini adalah orang yang kita merasa nyaman jika berada di dekatnya, karena setiap kebaikan yang dilakukannya adalah murni.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita menjadi orang yang baik itu?

Iklan

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s