Yang Patut Diirikan

Sekilas kita melihat bahwa rasa iri itu adalah sesuatu yang negatif. Namun tahukah jika rasa iri itu adalah sebuah bentuk potensi yang kita miliki untuk mencapai suatu tujuan? Kita bisa saja merasa iri dengan kesuksesan orang lain. Melihat itu, kita termotivasi untuk mencapai level yang sama dengannya. Rasa iri itu memicu kita untuk bergerak dan berusaha.

Jika kita berpikir bahwa rasa iri itu tidak baik, mungkin perlu dipikirkan lagi kebenarannya. Pasalnya, yang membuat tidak baik itu bukanlah rasa iri, melainkan bagaimana kita menyikapi rasa iri itu. Jika muncul rasa iri akan kesuksesan orang lain, lalu kita ingin menjatuhkannya, maka itu salah. Namun jika kita merasa iri, lalu berusaha untuk menjadi sama atau melebihinya, maka itu bukan sebuah kesalahan.

Sebagai tambahan, bagaimana cara kita untuk mencapai target itu juga menentukan baik tidaknya rasa iri yang hinggap. Jika kita menghalalkan segala cara dan tidak peduli dengan nasib sekitar kita selama berusaha, maka itu salah. Namun jika kita menggunakan cara yang jujur dan sportif, maka itu bukan sebuah kesalahan.

Kawan,
Biasanya, orang mengubah kata ‘iri’ pada sisi positif menjadi kata ‘termotivasi’. Ya, jika dipikir-pikir lagi artinya adalah sama. Melihat hal tersebut, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa iri adalah sesuatu yang buruk. Yang harus diperhatikan adalah apa yang kita lakukan setelah merasakan perasaan iri itu.

Anda juga pernah merasa iri dengan keberhasilan orang lain? Apa yang Anda lakukan selanjutnya?

Iklan

5 thoughts on “Yang Patut Diirikan

  1. rasa iri menurutku membuat pikiran kita gak tenang juga…

    Lambertus said:
    Makanya jangan terlalu banyak iri sama orang lain

  2. wew, keren.. betul tuh,

    klo dalam Islam, kami mutlak g boleh iri, tapi ada pengecualiannya :

    Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

    “Tidak boleh hasad (iri, ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, ia menunaikan dan mengajarkannya.”

    (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

    Lambertus said:
    Satuju sekali. Maksud saya juga yang seperti itu.

  3. Betul banget! Saya jadi rajin baca buku gara2 iri sama teman yg novelnya best seller. Setelah saya tanya, ternyata kuncinya rajin baca.

    Lambertus said:
    Tidak ada penulis yang sukses tanpa membaca. Kalau menulis itu senjata, maka membaca adalah amunisinya. Senjata tanpa amunisi, mana bisa? Terima kasih kunjungannya mas Zian

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s