Ups, Keceplosan!

Ada kalanya kita berbicara dahulu sebelum berpikir. Akibatnya, kita menyakiti hati orang lain dengan kata-kata kita. Ya, lidah memang tak bertulang. Meskipun sebisa mungkin kita tidak melakukannya, tapi kemungkinan untuk salah bicara itu pasti ada. Apa yang harus kita lakukan untuk menghindari hal ini? Dan bagaimana pula jika sudah telanjur?

Kesalahan bicara biasanya terjadi ketika kita tidak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang kita bicarakan. Informasi yang kita dapatkan hanya sepotong, bahkan secuil. Kemudian kita berhasrat untuk membicarakannya karena kita memiliki secuil informasi itu. Umumnya, manusia itu ingin berkontribusi dan berbagi dengan sedikit yang dimiliki daripada tidak sama sekali. Oleh karena itu, dalam hal berbagi informasi pun hal ini sering terjadi.

Beberapa orang memang sudah menyadari kekurangan informasi yang dimiliki dengan mengatakan “Katanya…” saat dia berbagi informasi tersebut. Hal ini memang sudah memberikan peringatan kepada yang mendengarkan bahwa kita sebagai pengirim pesan masih belum meyakini kebenarannya. Namun, hal ini juga tidak disarankan untuk dilakukan, mengingat tidak semua penerima pesan mempedulikan kebenaran informasi yang diterimanya.

Untuk menghindari adanya perselisihan yang diakibatkan kesalahan bicara, para pemberi informasi selayaknya mengevaluasi terlebih dahulu sebuah informasi sebelum dibagikan. Evaluasi informasi ini maksudnya adalah mengetahui dampak setelah informasi ini menyebar, mengetahui fakta dari informasi, juga kesesuaian informasi dengan situasi yang ada.

Terkadang situasi pembicaraan mengalir begitu saja ketika sudah asyik dan tak sadar kita sudah menyinggung perasaan orang lain. Jika hal ini terjadi, cepatlah minta maaf dan luruskan maksud pembicaraan tadi. Permasalahan karena kesalahan bicara memang tidak menyenangkan. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya ungkapan bahwa “Diam adalah Emas”.

Kawan,
marilah kita jaga perkataan kita karena pembicaraan kita juga menggambarkan kepribadian kita. Jangan sampai orang salah mengerti kita karena sikap kita yang tidak baik saat bicara. Jika kita tahu bahwa omongan kita adalah senjata paling tajam, tentunya kita tak mau menggunakannya untuk melukai sesama kita, bukan?

Apakah Anda pernah menyakiti orang lain melalui perkataan?

Iklan

4 thoughts on “Ups, Keceplosan!

  1. kalo keceplosan sebagusnya sesegera mungkin minta maaf, biar tidak terjadi kesalahpahaman. tapi sebenarnya kalo kita mau bicara atau diskusi memang harus disesuaikan kondisi dan situasi.

    Lambertus said:
    Benar sekali. Bagaimana pun juga komunikasi itu penting, tapi harus komunikasi yg baik dan benar.

  2. pernahlah tentunya… 😐
    tapi aku seringnya nyakitin ya itu tadi sama seperti judulmu mas “keceplosan”..
    maksud hati mau tetap jaga omongan tapi ya malah ujung2nya nyakitin orang..
    *tepok2 mulut*

    Lambertus said:
    Kalo begitu lebih selektif aja ngomongnya

  3. Ingat saja, “mulutmu harimaumu”. 🙂

    Saya pun mulai sekarang harus pintar2 menjaga perkataan yang akan meluncur dari mulut saya. 😐

    Lambertus said:
    Saya juga

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s