Berawal Marah, Berakhir Malu

Semua yang berawal dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu.

Aku mendapatkan quote ini dari sahabatku ketika curhat mengenai sakit hati yang aku alami. Aku sangat berterima kasih karena kata-kata ini mampu mengobati rasa sakit hatiku. Kata-kata ini membuatku mencintai diri sendiri. Kata-kata ini membuatku bersyukur karena mengenal seorang sahabat seperti dia. Yang jelas aku juga bersyukur karena dia mengetahui quote ini lebih dulu, sehingga bisa disampaikannya kepadaku.

Suatu hari di Bandara Soekarno-Hatta, ruang tunggu. Pesawat kami mengalami keterlambatan sekitar satu jam lebih. Orang-orang yang duduk dan berlalu lalang di ruangan ini sepertinya juga calon penumpang pesawat yang sama. Kami pun duduk di kursi kosong paling pojok. Kegiatan yang kami ikuti selama tiga hari ini cukup melelahkan, tapi tetap mengasyikan. Aku tidak akan menceritakan kegiatan apa yang sudah kami ikuti, karena itu akan membongkar semua curhatanku di sini.

Bertiga, aku dan dua orang lagi, namanya Dhoni dan Ali. Kami benar-benar masih orang baru di bandara ini. Secara spontan, kami memilih tempat duduk yang jauh dari keramaian. Satu, kami lelah dan butuh beristirahat. Dua, aku ‘lelah’ dan butuh tempat yang tenang. Sepanjang perjalanan dari tempat kegiatan hingga bandara ini, hatiku terus berkecamuk. Di dalam sana sedang ada perasaan yang bercampur aduk antara marah, kesal, sedih, menyesal, takut, dan kecewa. Aku tahu kalau aku sudah mencapai titik di mana aku tidak bisa memendam perasaan ini sendiri. Aku harus menceritakan hal ini kepada orang lain. Siapa? Aku butuh orang yang tepat sebagai tempat curhat. Dan aku pun mendapatkan salah satu temanku yang selalu siap mendengarkan.

Ali memanfaatkan waktu dengan tidur, sehingga tinggallah aku dan Dhoni.

“Dhon, sebelumnya maaf ya,” kataku tiba-tiba saat dia bengong dan merasa tidak tahu harus melakukan apa.

“Hah, ada apa, Tus?” tanyanya tidak mengerti. Saat itu dia langsung bereaksi siap mendengar karena dia tahu gelagatku kalau mau curhat. Aku selalu kelihatan mellow dan benar-benar jatuh.

“Tadi aku kelihatan nggak kalau lagi marah?”

“Mmm, nggak juga,” jawabnya tenang. Dalam hati, aku merasa senang. Namun di sisi lain aku merasa kesal karena aku mengharapkan seseorang tahu kemarahanku. “Kenapa? Karena yang itu tadi ya?”

“Iya.”

“Sebenarnya aku juga merasa kalau seharusnya beliau nggak bilang begitu,” tambahnya lagi.

“Menurutmu juga begitu?”

“Aku juga sempet kaget sih. Wah, Lambertus pasti nggak enak hati nih.”

“Begitu ya.” Lalu aku diam beberapa saat. “Boleh aku cerita bagaimana perasaanku tadi?”

“Ya, silahkan,” jawabnya.

“Sebenarnya aku mengharapkan tanggapan yang baik dari hasil karyaku ini. Apalagi dari orang seperti beliau.” Aku diam lagi. “Tapi kalau nggak bagus, juga nggak sampai menghina segitunya kali!” Rasa marahku mulai tersulut. “Yang katanya anak TK juga bisa lah. Aku sendiri tahu kalau aku nggak bisa bikin gambar. Tapi kalau memang bener-bener jelek, harusnya aku nggak diundang ke Jakarta sekalian kan?”

Temanku diam mendengarkan. Aku masih akan menumpahkan semua kekesalanku.

“Aku tahu kalau anak-anak Surabaya itu gila dan semua terima dengan guyonan semacam itu. Aku tahu kalau beliau cuma bercanda. Tapi beliau pasti lupa kalau karya itu buatanku dan aku ada di situ. Mungkin beliau lupa atau nggak tahu aku ini kayak gimana orangnya. Aku beda dengan teman-teman Surabaya yang lain.”

Ada rasa sakit yang mau keluar. Aku ingin sekali menangis atau teriak, tapi aku menahannya.

“Sebenarnya aku sudah malas banget waktu beliau minta foto bareng. Kayak nggak ada apa-apa aja. Aku kepingin banget tidak mempedulikannya. Ketahuan kan tadi waktu beliau minta foto, aku malah asyik sama kuasku sendiri.”

“He-eh,” temanku mengangguk.

Aku tertawa sedikit. “Sebenarnya aku tadi punya pikiran jahat. Apa jadinya kalau aku tiba-tiba banting kuas di depan beliau terus pergi dari situ?” Dan aku diam sebentar. “Untungnya aku diam. Aku tahu posisiku dimana dan apa jadinya kalau nanti aku benar-benar melakukan itu. Tapi tetep aku nggak bisa senyum waktu foto tadi.”

“Yang kamu lakukan itu tidak salah kok Tus,” sahut temanku pada akhirnya. “Semua itu bener kok. Beliau pasti lagi lupa aja. Kamu sendiri tahu juga kan teman-teman kita kalau bercanda kayak gimana. Beliau pasti menyesuaikan diri dengan itu. Bagi kita candaan itu seperti simbol keakraban. Tapi juga tempatnya nggak pas juga sih kalau beliau bilang begitu.”

Kini gantian aku yang mendengarkan.

“Memang benar, semua yang berawal dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu. Kalau kamu benar-benar melakukan apa yang kamu pikirkan tadi, bisa-bisa malah kamu sendiri yang kena. Di sana banyak orang juga kan. Kalau sudah sampai begitu, kamu sendiri yang salah. Jadi keputusanmu untuk diam itu benar sekali.”

“Iya, nanti hubunganku dengan beliau jadi tidak baik,” sahutku sambil merenungi percakapan ini.

“Dan lihat sisi positifnya, pasti ada manfaatnya gambarmu ada di sana. Katanya kan di situ memang dekat sama sekolah TK dan kelihatannya gambarmu memang yang paling sesuai dengan tema kalau ada di tembok sebelah situ. Kalau pakai gambar yang lain, mana tahu adik-adiknya.”

“Ya, pasti ada alasan gambarku ditaruh di situ.”

Jadi seperti itulah percakapan kami berakhir. Pesawat datang dan kami akan menempuh perjalanan udara menuju Surabaya. Semoga dengan membaca tulisan ini kita jadi ingat akan perlunya berpikir sebelum bertindak dan menahan emosi. Tak ada manusia yang sempurna. Akan ada akibat dari semua yang kita lakukan. Semoga kita selalu bisa belajar dari keseharian kita.

Iklan

2 thoughts on “Berawal Marah, Berakhir Malu

  1. meredam amarah, mengeluarkan amarah
    ga semua orang bisa meredam amarah, kadang aku juga ga bisa,
    makasih ya, semoga dengan quote tadi, aku jadi lebih sadar, marah itu bikin malu

    Lambertus said:
    Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s