Tidak Rasionalnya Manusia

Apakah ini diambil dari pengalaman saya kali ini? Yup! Saya merasa tulisan saya lebih berharga ketika berdasarkan dari pengalaman pribadi atau lingkungan di sekitar saya. Dan yang satu ini memang bukan asli dari sebuah peristiwa yang saya temui secara langsung, tapi saya rasa cukup menarik sehingga saya coba untuk ceritakan kembali menggunakan bahasa saya sendiri.

Hal ini saya dapatkan dari siaran radio. Siang tadi waktu saya sedang makan sambil baca koran, sebenarnya sambil cari topik buat ditulis. Eh, ternyata hal yang membuat saya terdiam itu ada di radio. Saat itu, telinga dan mata saya terlibat percakapan.

Mata: Duh, apa ya yang bagus buat di tulis nanti? *menyusuri baris-baris tulisan di koran*
Telinga: *bergerak-gerak karena dengar ada yang menarik* Eh, mata!
Mata: Apaan sih? Lagi sibuk nih!
Telinga: Tuh di radio ada yang bagus. Lu kemarin sudah kerja kan? Sekarang giliran gue.

Dan saya pun menutup koran, menghentikan kegiatan makan saya, dan tenggelam di dalam siaran radio yang seperti sebuah perenungan beberapa menit. Suara seorang laki-laki terdengar di situ. Saya tidak kenal dia. Dan tentunya saya juga tidak bisa mengingat kata demi kata yang saya dengarkan tadi. Namun kira-kira seperti ini ceritanya.

Ada seorang dosen dan beberapa orang mahasiswanya. Dosen ini menyuruh mereka melakukan hal yang tidak biasa, yaitu membaca novel. Ya, pelajaran kali ini akan dipelajari dari sebuah novel. Tentunya hal ini membuat mereka semua tertarik. Dosen ini meminta semua mahasiswanya membaca novel itu sampai selesai. Kala itu novel yang diminta oleh dosen adalah novel Agatha Christie, tentang kasus pembunuhan. Di kisahkan bahwa ada tujuh tersangka di dalam kasus tersebut.

Nah, setelah semua selesai membaca. Dosen pun menanyai mahasiswanya satu-satu secara empat mata.

Dosen: Menurutmu si A ini berapa probabilitasnya sebagai si pembunuh?
Mahasiswa: Kalau menurut saya sih… sekitar 15% Pak.
Dosen: Kalau si B?
Mahasiswa: Lebih mungkin lagi… mungkin 20%-an
Dosen: Kalau si C? Bagaimana?
Mahasiswa: (tertawa) Ya nggak mungkin lah Pak. Kalau dia sih, mungkin cuma 5% saja.
Dosen: Terus yang paling mungkin jadi pembunuh, menurutmu siapa?
Mahasiswa: si D. Dia yang paling mungkin. Saya pasang angka 50%
Dosen: Hmm… tentunya saya tidak adil jika tidak menanyai semuanya. Bagaimana dengan E, F, dan G?
Mahasiswa: E 20%, F 30%, dan G 15%. Jadi kalau menurut saya, urutan pembunuhnya mulai yang paling mungkin itu seperti ini: D, F, B dan E, A dan G, dan yang terakhir C.
Dosen: Pertanyaan terakhir. Berapa total kemungkinanmu itu?
Mahasiswa: (menghitung dalam hati… terdiam… tersenyum sambil garuk-garuk kepala)

Berapa totalnya? 155%. Padahal secara umum total dari semua kemungkinan adalah 100%. Lalu dari mana 55% tambahan itu? Secara rasional, dengan adanya 7 tersangka dalam kasus itu, maka masing-masing orang memiliki probabilitas yang sama, yaitu 1/7. Lalu bagaimana angka-angka itu bisa muncul dari benak mahasiswa?

Dalam dunia kepenulisan, pembaca sering dituntun oleh penulis untuk memasuki dunia yang sangat asyik. Dunia yang bisa mencampuradukkan emosi pembaca. Sehingga sering muncul si A suka tokoh 1, si B merasa kalau tokoh 2 itu sama seperti dirinya, atau si C sangat benci tokoh 3. Lalu apa inti dari semua ini? Emosi manusia.

Ya, emosi bisa membuat manusia bisa menjadi tidak rasional. Kita bisa sadari bahwa emosi itu perlu. Namun jangan sampai emosi tersebut mempermainkan diri kita sehingga apa yang kita lakukan itu menjerumuskan diri kita sendiri. Main hakim sendiri; marah-marah tanpa tahu duduk persoalannya; saat ada orang bertampang preman dan orang kurus melas sedang dalam perselisihan, kita sering mengasihani si kurus melas dan melawan orang bertampang preman tanpa tahu asal muasal perselisihan.

Emosi sering menjadi bumbu dalam pengambilan keputusan yang dilakukan manusia. Ibaratnya vetsin, emosi ini memang kelihatan wajar, tapi kalau kebanyakan tentu menjadi tidak sehat. Emosi tanpa pengandalian sering menjadikan seseorang gegabah. Inilah yang membuat seorang manusia menjadi tidak rasional.

Setujukah teman-teman dengan hal ini?

Iklan

5 comments

  1. Hmmm bener banget. Manusia itu kan diciptakan Tuhan dengan akal, otomatis manusia pasti punya emosi ;-).Pengelolaan emosi jadi penting akhirnya. Bahkan, manusia sukses itu bukan ditentukan dari Intelligence Quotient (IQ)-nya tapi Emotional Quotient (EQ)-nya. Menurut penelitian lho heheh… ๐Ÿ™‚

    Lambertus said:
    Tambahan. SQ juga. ๐Ÿ™‚

  2. Emosi sering menjadi bumbu dalam pengambilan keputusan yang dilakukan manusia.

    Setuju. ๐Ÿ˜€ Tapi, bukankah ini lebih tepat disebut sebagai “perasaan” atau “hati”? Karena hal ini pula, sering ada keputusan yang di luar akal sehat. ๐Ÿ˜‰

    Luar biasa, tulisan-tulisan yang berbobot, seperti biasa. ๐Ÿ™‚

    Lambertus said:
    Saya pakai istilah sebagaimana yang saya dengar dari radio. ๐Ÿ™‚ Terima kasih.

  3. ” saya salut ni mas..
    Blog mas baru aja berumur sebulan, tapi hasilnya sangat bagus.sedang Blog saya hampir 6 bulan, tapi bentuknya masih gitu2 aja..
    bisa bantu saya mas…
    saya ingin buat daftar Blog teman agar muncul di sidebar…
    tapi blm tau caranya ni…
    tlg saya ya mas caranya,,,,
    tahnks sebelumnya.. ”

    Lambertus said:
    Saya balas lewat email y

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s