Beda Sudut Pandang: Maksud dan Kelihatannya

Sebal dengan seseorang? Merasa tidak nyaman jika harus berurusan dengan seseorang yang beda pandangan? Merasa tidak diterima? Selalu berselisih dengannya? Yah, itu memang hal yang lazim dalam berinteraksi dengan orang lain. Tapi bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang kedudukannya berada di atas kita? Tentunya rasa sebal itu akan berlipat-lipat karena kita tidak dapat mengekspresikan kekesalan kita secara langsung dihadapannya.

Melihat suatu keadaan dari dua sisi bisa jadi suatu hal yang sangat berguna ketika kita sedang terjebak di dalam permasalahan yang cukup pelik, terlebih dalam hal perselisihan paham. Akan tetapi mudahkah hal ini dilakukan?

Sifat subjektivitas manusia merupakan penghalang terbesar untuk melakukan pandangan objektif ini. Dengan kata lain, ketika seseorang itu sudah berpihak di salah satu sisi kemungkinan terbesarnya adalah mendukung salah satu pihak saja. Tutup mata. Tutup telinga. Inilah jalan yang paling mungkin dan jalan itu adalah salah.

Melihat suatu permasalahan dari banyak sisi lebih mudah dilakukan jika kita sebagai manusia berada di luar permasalahan tersebut. Untuk membayangkannya tidak sulit kok.

Ada dua orang buta sedang berusaha menggambarkan bagaimanakah bentuk gajah itu. Buta A menggambarkan bahwa gajah itu lebar, tipis, dan bisa melambai-lambai. Sementara buta B mengatakan kalau gajah itu kurus kecil dan panjang seperti ular. Melihat mereka berdua, orang-orang pun mengerti bahwa keduanya menggambarkan gajah dari dua hal yang berbeda. Buta A dengan telinga gajah, buta B dengan ekor gajah. Dan sesungguhnya gajah itu lebih yang digambarkan daripada sekadar telinga dan ekor

Menghubungkan hal ini dengan kehidupan kuliah antara mahasiswa dan dosen, seringkali terjadi perselisihan tersembunyi di antara keduanya. Mahasiswa berpikir bahwa dosen A mengajar dengan cara yang tidak biasanya, aneh, dan membuat risih. Tahukah mereka bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang mungkin direncanakan di balik hal yang ‘aneh’ itu?

Berjalan dalam kabut. Saya sendiri sering merasa seperti itu. Sebagai seorang mahasiswa, saya juga sering mengalami dilema di mana keadaan pengetahuan saat keluar pintu kelas masih sama seperti ketika keluar kelas. Ya, kesimpulannya datang atau tidak, hasilnya sama! Ini sebenarnya yang salah siapa sih? Mahasiswa atau dosennya?

Jawabannya adalah tidak ada yang salah. Bagaimana pun juga, seorang dosen sudah memiliki target tertentu dan bisa membayangkan mahasiswa nanti ingin dibentuk seperti apa. Mungkin beliaunya sendiri memiliki cara yang tidak dimengerti mahasiswa. Akibatnya, dalam menjalaninya pun mahasiswa harus meraba-raba. Dan seperti yang saya katakan tadi, berjalan dalam kabut, mahasiswa pun tidak mengerti ketika sudah mencapai suatu titik. Mahasiswa dituntun, tapi berhenti di mana dia tidak tahu. Akhirnya apa yang terjadi? Mahasiswa sering menggerutu dan men-judge bahwa cara mengajar dosen itu salah atau tidak enak sama sekali. Ujung-ujungnya, mahasiswa jadi malas kuliah, titip absen, bolos, atau menyerah di tengah jalan!

Dosen sendiri mungkin agak illfeel lihat mahasiswa yang sulit mengerti sama sekali dengan mata kuliahnya. “Ini mahasiswaku mungkin yang malas-malas. Sudah diingatkan berkali-kali agar belajar sebelum kuliah. Apa saja sih kerjaannya kalau di rumah?”. Berbagai cara telah dilakukan dosen tetapi menghasilkan hal yang nihil. Akhirnya capek, lelah, dan menyesal punya mahasiswa seperti ini.

Mungkin cara paling efektif yang bisa dilakukan oleh kedua pihak tersebut adalah keterbukaan. Komunikasi satu sama lain. Mahasiswa tahu maksud pengajaran dosen, dosen tahu keinginan mahasiswa. Maksud keterbukaan di sini lebih menjurus ke keintiman hubungan antara dosen dan mahasiswa. Hubungan yang tidak menyebabkan jarak akan membuat proses komunikasi yang lebih mudah diterima, hati ke hati, bahkan bisa lebih seperti orang tua dan anak, atau justru antar sahabat.

Di luar permasalahan antara dua pihak tersebut, bisa jadi masing-masing pihak memiliki permasalahannya sendiri yang menyebabkan timbulnya permasalahan di dua pihak ini. Keterbukaan komunikasi lagi-lagi cara yang tepat untuk memecah dan menyibak kabut yang menggumpal di depan mata.

Saya sendiri sudah berusaha mencobanya. Dan memang berhasil. Meskipun awalnya takut-takut, tapi ternyata dosen pun tidak selalu seperti seorang yang super dan berkuasa. Mereka lho juga manusia biasa sama seperti yang lainnya. Hubungan timbal balik ini bisa jadi menguntungkan keduanya, baik itu disadari maupun tidak disadari. Perbedaan sudut pandang bisa disinkronkan. Dan suatu maksud pun bisa diketahui daripada apa yang kelihatan di luar.

Siapa pun pasti tahu arti Don’t judge book by its cover, kan? Tidak hanya tentang penampilan, hal ini pun berlaku dalam sebuah komunikasi antar manusia.

Bagaimana menurut teman-teman akan perbedaan pendapat ini?

Iklan

One comment

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s