Tentang Aku dan Rokok

Sejak kecil, aku tidak suka rokok. Dan untungnya sampai sekarang pun aku masih tidak tertarik untuk merokok. Aku punya beberapa pengalaman menarik dengan rokok yang ingin kubagikan. Eits, ini bukan pengalaman coba-coba rokok ya, karena aku memang tak pernah mau menyentuh rokok. Inilah pengakuan tentang aku dan rokok.

Rokok dan keluarga
Aku sangat bersyukur tumbuh di dalam keluarga yang sangat mendukungku untuk tidak mencoba-coba rokok. Ibu dan kakakku sangat tidak menyukai asap rokok. Bapakku merokok, tapi tidak pernah melakukannya di rumah. Beliau juga tidak pernah menawarkan padaku untuk mencobanya, mungkin karena takut dengan ibu dan kakakku. Ya, mereka mengomel dengan sadis jika bapak ketahuan merokok.

Aku tidak ingat, mengapa dulu waktu kecil aku sangat tidak menyukai rokok. Mungkin karena orang tuaku sangat menjagaku untuk tidak terlalu dekat dengannya. Yang aku ingat hanya bau asap rokok itu tidak enak, makanya aku anggap rokok itu tidak baik. Jika ada teman bapak bertamu dan mereka merokok, aku cenderung menjauhinya. Atau kalau terpaksa harus berada di dekat mereka, aku menahan nafas. Semacam insting untuk jaga jarak dengan rokok.

Rokok dan pergaulan
Ketika aku menginjak usia sekolah, aku sangat bersyukur berada di dalam pergaulan yang baik. Kalau pun ada temanku yang merokok, mereka tidak mengajakku. Sepertinya mereka juga menjagaku agar tidak ikut mereka melangkah ke wilayah hitam. Sekali lagi, tidak ada ketertarikan.

Sesungguhnya aku juga membayangkan, bagaimana jika suatu hari nanti muncul seseorang yang mengajakku merokok, lalu mengata-ngataiku ‘banci’ gara-gara tidak merokok. Tapi hal seperti itu tidak pernah ada. Kalau pun ada, aku cukup mengatakan kepada mereka kalau aku tidak merokok, lengkap dengan ekspresi wajah bangga. Aku menyadari kalau para perokok tidak akan repot-repot memaksa mereka yang tulus memilih untuk anti-rokok. Karena usaha mereka akan percuma saja.

Pengalaman lucu
Aku punya pengalaman lucu ketika kecil dulu. Kejadiannya di dalam kereta pada malam hari. Saat itu udara cukup bikin gerah dan aku sudah merasa lelah karena perjalanan. Tiba-tiba tercium bau asap rokok. Yang namanya anak kecil, dan saat itu aku masih belum bisa menahan diri, langsung deh aku menggerutu, “sopo seh iki sing ngerokok?” (Siapa sih ini yang merokok) lengkap dengan wajah kesal. Tiba-tiba seorang bapak melewatiku dan berjalan keluar gerbong, tak lain adalah penumpang yang duduk tepat di sebelahku. Orang tuaku nyaris melotot, tapi mereka tidak marah karena aku tidak salah. Aku juga malu karena perkataan yang meloncat begitu saja dari mulutku, tapi aku tidak merasa bersalah karena memang aku tidak salah.

Himbauan untuk tidak merokok?
Aku tidak menyukai rokok, tapi aku tidak serta merta membenci mereka yang melakukannya. Menjadi seorang perokok atau bukan, itu adalah pilihan masing-masing pribadi, sama seperti menjadi shoppaholic atau gila bola. Kita tidak bisa menilai seseorang itu buruk hanya karena mereka merokok. Aku yakin, dari banyaknya himbauan anti-rokok di luar sana, para perokok pun tahu bahaya merokok. Tapi tetap saja mereka lanjutkan karena ada sesuatu yang mereka dapatkan dari rokok. Mereka rela menanggung semua risikonya. Jika mereka ingin berhenti merokok, pada saatnya nanti mereka akan berhenti sendiri. Karena yang bisa memaksa bukan orang lain, melainkan diri sendiri.

Iklan

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s