Tentang Aku dan Kendaraan Pribadi

Saat ini, aku adalah seorang pengendara motor. Untuk beraktivitas, aku pergi kemana-mana dengan naik motor. Ya, pastinya karena saat ini aku sudah bisa mengendarai motor. Sebelumnya, aku hanya bisa naik sepeda. Dan sebelumnya lagi, aku tidak bisa naik apa-apa. Terkait dengan kendaraan pribadi, aku punya kisah yang bisa kubagikan. Inilah pengakuan tentang aku dan kendaraan pribadi.

Bonceng
Pengalaman masa kecilku dengan kendaraan tidaklah banyak. Itu karena aku memang tidak bisa mengendarai apa-apa. Sepeda pun tidak. Memori terlamaku di atas sepeda itu mungkin ketika aku berumur 3 tahun. Aku dibonceng, duduk di dudukan yang digantungkan di stang sepeda. Kalau sedang mengantuk, aku bisa langsung tidur di sana dengan aman dan nyaman. Sampai akhirnya aku cukup besar untuk dibonceng di belakang.

Untuk pergi ke sekolah, aku tidak pernah mempermasalahkan kendaraan. Waktu TK, aku ikut antar jemput, naik becak bersama teman-teman yg lain. Kalau tidak salah bisa sampai 10 orang di atas becak. Memasuki SD, aku malah jalan kaki karena sekolahku dekat. Aku pun merasa tidak punya keharusan untuk belajar naik sepeda. Kalau ada perlu keluar, ada bapak atau mbak yang akan memboncengku. Aku senang dibonceng. Apakah aku tidak ingin naik sepeda? Ingin… tapi takut.

Sepeda
Duduk di bangku SD, semua teman sebayaku sudah bisa naik sepeda. Di antara temanku laki-laki, hanya aku yang belum bisa naik sepeda. Apa aku punya sepeda? Punya. Bapak dan ibu sudah belikan. Aku lupa saat itu aku sudah kelas berapa. Aku sangat senang punya sepeda, tapi aku tidak segera menggunakannya. Alasannya sederhana, aku takut jatuh. Ya, aku takut jatuh dan tidak mau jatuh dari sepeda. Selain itu, aku tidak ingin melukai seseorang (dengan menabraknya) atau merusak sesuatu (dengan menabraknya). Harapanku saat itu, aku ingin sekali berlatih dan langsung bisa.

Namun, tetap saja, aku takut jatuh dari sepeda. Keseimbangan adalah hal yang baru bagiku saat itu. Cukup menegangkan karena pilihannya ada dua, tidak seimbang dan jatuh atau seimbang dan terus melaju. Karena aku takut, maka aku berhati-hati. Dalam hal belajar bersepeda, kehati-hatian hanya akan membuatmu gagal. Aku menjadi ragu untuk mengayuh. Ribuan pertanyaan bermunculan di dalam benakku. Kalau jatuh bagaimana? Kalau menabrak orang bagaimana? Kalau menabrak tanaman orang, aku harus bilang apa? Aku pun tidak beranjak lebih jauh dari satu kayuhan saja. Akhirnya aku masih belum bisa naik sepeda dan terus berakhir di boncengan.

Memasang roda tambahan di belakang pun tidak berhasil bagiku. Memasang dua roda membuatku santai mengayuh karena aku tahu tidak akan jatuh. Memasang satu roda malah membuatku miring ke sisi yang aku yakin tidak akan jatuh. Namun, selain itu, roda tambahan juga membuatku membayangkan kalau aku akan jatuh saat berbelok, lantaran roda itu menghalangi. Hasilnya, setiap akan berbelok, aku selalu diam sebentar dan belok pelan-pelan. TET-TOT! Strategi kedua tidak berhasil. Aku masih belum bisa naik sepeda dan terus berakhir di boncengan.

Masa-masa itu pun berlanjut sampai aku mengalami suatu peristiwa di kelas 4 SD. Aku pun menyadari kalau yang membuatku tidak bisa naik sepeda adalah kurangnya motivasi. Seperti yang kusampaikan tadi, aku kemana-mana dengan dibonceng, terlebih lagi dibonceng bapak. Juga untuk berangkat mengikuti pelajaran agama di gereja, aku dibonceng bapak. Suatu hari saat pulang, ada aku, bapak, dan guru agamaku. Guruku menyeletuk, “Sudah besar kok masih dibonceng bapak? Harusnya bapak yang dibonceng.” Kata-kata itu diucapkan dengan cara yang biasa, tapi aku yang mendengarnya merasa sangat tertampar. Aku merasa malu. Tiba-tiba aku sangat malu untuk dibonceng. Sejak itu, aku menjadi sangat nekat dan tidak memikirkan apa-apa selain AKU HARUS BISA NAIK SEPEDA. Dalam waktu singkat, aku pun bisa menjaga keseimbanganku di atas dua roda. Aku pun belajar kalau semakin lambat aku mengayuh, maka keseimbanganku akan semakin mudah goyah. Aku juga lebih mengetahui kapan kakiku harus turun dari pedal saat akan berhenti atau akan jatuh. Aku tidak punya memori apakah aku pernah jatuh dari sepeda atau menabrak saat itu. Yang pasti, setelah aku bisa naik sepeda, tak ada hari yang kulewatkan tanpa sepeda. Aku menjadi sangat suka bersepeda.

Motor
Mamasuki bangku SMP dan SMA, aku melewatinya sebagai seorang pengendara sepeda. Di SMP, kami para siswa tidak diperbolehkan membawa motor. Aku mendapatkan sepeda yang lebih besar, pemberian tetangga. Di SMA, tidak ada larangan, tapi aku masih lebih senang naik sepeda. Aku tidak mempunyai keinginan untuk naik motor dan aku masih belum merasa pantas untuk naik motor. Mengapa? Karena aku masih bersekolah. Selain bersepeda, aku juga kadang dibonceng motor dengan sahabatku.

Siapa sangka kalau akhirnya aku masih tetap bertahan bersama sepedaku di bangku kuliah. Bapak mengirimkan sepeda dari Mojokerto ke Surabaya, tempatku menuntut ilmu. Sesekali juga aku dibonceng motor temanku atau naik angkot ketika aku sedang lelah naik sepeda atau sepedaku ada masalah. Kembali, aku menjadi satu-satunya yang belum bisa naik motor.

Apakah aku tidak ingin bisa naik motor? Hei, aku bisa, kok! Aku pernah diajari kakak iparku mengendarai motor. Aku tidak kehilangan keseimbanganku, sama seperti naik sepeda. Aku hanya tidak terbiasa mengganti gigi motor dan menyerahkan diri di atas sesuatu yang tidak bisa kukendalikan. Aku sulit menyatu dengan motor karena aku sudah terlalu menyatu dengan sepedaku. Selain itu, aku tidak punya motor. Teman-temanku selalu mendorongku untuk belajar naik motor, tapi aku selalu menolak. Entahlah, aku belum merasa terpanggil untuk bisa naik motor. Akhirnya aku tetap beraktivitas dengan sepedaku.

Aku pernah berpikir, apakah kali ini aku juga kurang motivasi, seperti bersepeda dulu? Tidak juga. Kalau aku bisa naik motor, aku tahu kalau aku akan bisa menjelajah kota lebih jauh lagi. Aku tidak akan lelah beraktivitas. Aku akan bisa membantu ibu kalau butuh boncengan ke mana-mana. Lagi pula, aku juga ingin naik motor karena ada lampu seinnya, yang selama ini tidak dimiliki oleh sepeda. Menurutku kali ini, aku bukan kurang motivasi, hanya belum menyatu dengan motor.

Aku tidak pernah meminta, tapi ibu membelikan motor untukku. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa selain terima kasih. Sebuah motor matic, jawaban atas kegundahanku. Aku sangat bersyukur ada orang yang menemukan motor matic, sehingga aku bisa naik motor juga. Bagiku, motor matic tidak berbeda jauh dengan sepeda. Aku bisa memegang kendali penuh, tidak bergantung pada gigi mesin. Sejak saat itu, aku naik motor matic untuk beraktivitas, sampai saat ini.

Pengalaman menarik dengan sepeda
Di tempatku kuliah, mahasiswa yang naik sepeda bisa dihitung dengan jari. Mungkin bagi teman-temanku yang mayoritas naik motor dan mobil, sepeda adalah hal yang menarik. Kadang mereka pinjam sepedaku hanya untuk sekadar mencoba mengayuh berputar-putar. Hal yang mengejutkanku, ternyata ada yang bisa naik motor tapi tidak bisa naik sepeda. Jadi mereka melewati proses belajar mengendarai itu.

Sebelum naik motor, aku ke tempat kerja sambilanku dengan naik sepeda. Klampis-Rungkut jaraknya cukup jauh dan tidak lazim untuk dicapai dengan naik sepeda. Kalian akan jarang melihat orang bersepeda di Surabaya. Berhubung aku hanya bisa naik sepeda, maka aku nekat. Entah apa yang teman-teman kerjaku pikirkan, yang pasti aku bangga karena kenekatanku membuat mereka heran.

Perawatan
Ada satu hal yang aku masih merasa kurang. Aku masih kurang merawat jika dibandingkan dengan bapak, seperti mencuci atau memeriksa kelaikan kendaraan. Baik sepeda maupun sepeda motor, bapak masih lebih gigih melakukan perawatan daripada aku. Untuk hal ini, aku masih perlu belajar banyak dari bapak.

Tentang belajar naik kendaraan
Dari pengalaman naik kendaraan ini, aku belajar sesuatu tentang diriku, sesuatu yang kusyukuri. Satu, aku memang lambat dalam memulai sesuatu, tapi begitu aku menguasainya, aku akan sangat terikat dengannya. Sama seperti saat ini, aku terikat dengan motorku. Aku tidak tahu apakah nanti aku akan mempunyai kesempatan untuk bisa mengendarai mobil, karena saat ini aku tidak mempunyai motivasi untuk itu.

Dua, aku lebih mempedulikan kesiapanku daripada kata-kata orang lain. Aku tidak merasa memiliki keharusan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Ini hidupku. Aku yang menjalani. Aku juga ingin maju, tapi aku akan menggunakan caraku sendiri.

Tiga, aku selalu punya orang-orang yang mendukung di sekitarku. Aku akan selalu mensyukurinya.

Kalian juga pasti memiliki pengalaman ketika mempelajari sesuatu. Proses itu sangat penting, dan kalian akan sangat bersyukur bisa mengalaminya. Pengalaman itu sesuatu yang akan dialami sendiri, tidak bisa dipelajari di bangku pendidikan manapun. Pengalaman itu milik kita pribadi dan itu yang membuat kita kaya.

Iklan

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s