Tentang Aku dan Kacamata

Kalau diingat-ingat, sudah 13 tahun aku menggantungkan penglihatanku dengan bantuan kacamata. Sama seperti pengguna kacamata usia muda pada umumnya, aku menderita rabun jauh. Sampai saat ini pun aku masih memakai kacamata, dan harus kuakui kalau aku sudah ketergantungan dengan kacamata. Tanpa kacamata, semua yang kulakukan rasanya salah, tidak mantap, tidak nyaman. Inilah pengakuan tentang aku dan kacamata.

Asal mula
Aku sangat ingat ketika pertama kali aku merasa sangat terganggu dengan penglihatanku yang tak lagi jernih. Saat itu, aku kelas 6 SD. Sangat umum bagi kami saat itu untuk bergilir posisi tempat duduk. Setiap harinya bergeser satu bangku ke depan, dan setiap minggunya bergeser satu bangku ke kanan. Entah apakah ada kebiasaan semacam ini untuk siswa SD sekarang ini. Aku, yang saat itu belum berkacamata, mendapatkan posisi duduk di bangku paling belakang. Saat itu, aku mendapati tulisan guru di papan tulis sangat tidak jelas. Tidak ada yang salah dengan tulisan guruku. Aku tahu. Hanya saja kali ini tulisan itu begitu buram sehingga nyaris tidak terbaca olehku. Aku harus memicingkan mataku untuk membacanya, atau tanya teman sebangkuku jika sudah benar-benar tak terbaca.

Aku tidak langsung menyampaikan hal ini kepada ibuku. Saat itu pun aku tidak langsung terpikirkan untuk memakai kacamata. Aku juga tidak merasa dibebani oleh buramnya penglihatanku. Aku hanya memerlukan usaha yang lebih untuk membaca tulisan jarak jauh. Itu saja. Namun, lama kelamaan aku merasa lelah dengan usaha lebih ini. Aku tidak ingat peristiwa apa yang membuat orang tuaku tahu kalau aku sudah mulai menderita rabun jauh. Entah aku yang cerita ke mereka, atau mungkin mereka yang melihat sendiri bagaimana perilakuku saat menonton TV atau melihat objek jauh. Yang pasti, setelah mereka tahu, aku tidak segera mendapatkan kacamataku. Peristiwa ini terjadi pada penghujung hari-hariku menjadi siswa SD. Aku baru positif menjadi orang berkacamata setelah beberapa hari di bangku SMP.

Berbagai pembicaraan pun terjadi sebelum aku mendapatkan kacamataku. Ibuku bilang, ini gara-gara aku suka membaca sambil tiduran atau tengkurap, atau menulis di tempat gelap, atau terlalu dekat menonton TV. Kebiasaan-kebiasaan kurang baik itu menjadikanku harus menggantungkan sisa hidupku pada kacamata ini.

Hari-hari dengan kacamata
Setelah memiliki kacamata, aku sadar kalau ternyata aku adalah anak yang ceroboh. Baru beberapa minggu memakai kacamata, aku sudah mematahkannya menjadi dua. Lari-larian, kena tangan teman, jatuh, terinjak… jadi dua. Akhirnya pada kacamata yang kedua dipasangi rantai, biar tidak jatuh kalau lepas dari telinga. Tapi lama-lama juga merasa ribet sendiri kalau ada yang bergelantungan kalau jalan. Dilepaslah rantai itu, bebas.

Selebihnya, tak ada peristiwa yang istimewa antara aku dan kacamataku. Hari-hari berlalu begitu saja sampai harus ganti kacamata lagi karena minus bertambah. Oh ya, pada pemeriksaan pertama, aku mendapatkan minus yang tidak sama di kedua mata. Minus 0.25 untuk mata kanan dan 0.75 untuk mata kiri. Sampai saat ini pun aku tak tahu mengapa bisa begitu. Dan ternyata bukan aku saja yang mengalaminya, jadi aku tidak merasa spesial.

Kebiasaan membacaku juga tidak berubah. Aku masih suka tengkurap kalau baca. Kadang telentang, baca miring, duduk, tiduran lagi, begitu seterusnya. Nonton TV-ku sudah berkurang, tapi ketertarikanku pada internet membuatku tak bisa lepas dari layar. Kuliahku di Fakultas Teknologi Informasi, lalu kerjaku sekarang juga di depan komputer. Nah, tak heran jika minus itu akan semakin besar. Sekian banyak aku berganti lensa kacamata karena penambahan minus, akhirnya sekarang aku lupa sudah minus berapa. Mungkin sudah minus 3 lebih.

Aku suka pakai kacamata
Awalnya, aku bukan termasuk orang yang pro atau anti dengan kacamata. Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit bangga menjadi orang berkacamata. Katanya, orang berkacamata itu lebih kelihatan “smart“. Memang ya, televisi itu memberikan dampak luas ke masyarakat. Selama ini, di film atau sinetron mana pun, baik dalam atau luar negeri, orang yang pintar itu selalu divisualisasikan dengan berkacamata. Walaupun lebih ke arah Nerd atau Geek, tapi tetap saja mereka itu ahli di bidangnya. Intinya, kacamata itu membuat orang menjadi terlihat lebih keren.

Aku memang bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan. Bersih, rapi, dan nyaman saja sudah cukup bagiku. Tapi tidak ada salahnya kan, kalau aku ingin tampil keren? Paling tidak, biarkan aku memuji diriku sendiri.

Selebihnya, aku memang suka pakai kacamata karena ini adalah alat bantu mutlak agar aku bisa lebih melakukan banyak hal. Mmm… untuk hal ini, aku tidak tahu harus mengatakan suka atau tidak. Mungkin yang namanya ketergantungan sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.

Aku tidak suka pakai kacamata
Ya, aku memang suka pakai kacamata, tapi itu karena aku tidak bisa apa-apa tanpanya. Jadi aku tidak akan merekomendasikan kepada siapa-siapa untuk memakai kacamata. Jika kalian belum berkacamata, maka syukurilah dan pertahankan kesehatan mata kalian sampai kapan pun juga. Karena sudah beberapa bulan ini, aku menjadi semakin sadar bahwa seharusnya aku bisa melakukan lebih banyak hal tanpa kacamata.

Jika aku tidak berkacamata, maka aku adalah orang yang mandiri. Aku bisa melihat tanpa bantuan alat apapun. Berikut akan kujabarkan apa saja yang tidak enak menjadi orang yang berkacamata, khususnya bagi penderita rabun jauh.

Tanpa kacamata, aku tidak bisa melihat dengan jelas, pastinya. Pernah suatu hari aku mencoba untuk melepas kacamata. Namun, aku sudah benar-benar tidak bisa bertahan. Aku tidak bisa melihat tulisan, tanda-tanda, bahkan wajah orang sekalipun. Saat temanku menyapa, aku hanya mengetahui siapa dia dari suaranya. Aku harus mendekat untuk benar tahu wajah seseorang. Dan itu sangat memalukan. Aku terlihat tidak berdaya saat berbicara dengan seseorang tapi tidak bisa tepat melihat matanya. Untuk menonton TV sekalipun aku harus memakai kacamata untuk bisa menikmatinya. Lebih seramnya lagi, aku merasa jarak bacaku tanpa kacamata sudah mulai memendek.

Ketika ada meeting di kantor, aku tersiksa karena tidak bisa melihat apa yang dipresentasikan. Bahkan ketika aku memakai kacamata sekalipun, aku melihat tulisan menjadi buram. Mengetahui aku harus ganti kacamata lagi, hatiku sangat sakit. Sakitnya tuh di sini! Ya, semakin parah saja.

Hal lain yang membuatku merasa tidak berdaya menjadi orang berkacamata adalah saat berkendara. Naik motor di jalanan tanpa kacamata itu sama saja dengan cari mati. Rasanya sama seperti berjalan di atas tali. Dengan kacamata pun, berkendara jadi tidak menyenangkan jika memasuki senja dan malam hari. Sinar lampu dari kendaraan berlawanan arah menjadi pecah gara-gara kacamata. Bagaimana kalau ditambah dengan hujan? Ah, aku akan lebih memilih diam di rumah saja.

Kacamata menjadi hal mengganggu jika tidak bisa melekat di hidungmu. Contohnya, aku. Kacamataku memang tidak dibuat terlalu rapat agar aku tidak pusing dan sakit. Dengan kulit wajahku yang berminyak, hidungku jadi seperti perosotan bagi kacamataku. Berulang kali aku harus menaikkannya, sampai gerakan menaikkan kacamata itu menjadi gerakan yang kadang tidak kusadari, sama seperti mengedipkan kelopak mata. Hal ini sangat mengganggu, terlebih saat beraktivitas yang mengharuskanku untuk menundukkan kepala.

Hal lainnya lagi, kacamata membuatku tidak bisa menikmati makanan berkuah yang masih panas. Mengetahui kacamatamu tiba-tiba berembun dan membutakanmu, saat kamu sedang ingin menikmati sesuatu, benar-benar merusak mood.

Tentang harapanku
Dari penjelasanku di atas, kalian mungkin bisa merasakan betapa saat ini aku sedikit banyak menyesal menjadi orang yang berkacamata. Tampil keren itu boleh, tapi percuma saja kalau tidak bisa melakukan apa-apa dengan bebas. Sebenarnya aku tidak ingin harus mengganti lensa kacamata lagi yang lebih tebal, tapi keadaan memaksaku untuk melakukannya. Saat ini aku sedang menunggu untuk alokasi uangku untuk ganti kacamata.

Aku sadar kalau kacamata ini tidak akan membuat mataku sembuh. Namun, bagaimana lagi? Aku sudah telanjur ketergantungan dengan kacamataku. Aku merasa ketergantungan ini adalah buah dari ketidaktahuanku akan apa kacamata itu. Ya, dulu kukira kacamata adalah sama seperti obat yang bisa menyembuhkan rabun. Ternyata tidak. Kacamata hanyalah alat bantu. Salah memakainya, maka minusmu akan bertambah. Namun dengan benar memakainya pun, minusmu tidak akan berkurang. Seharusnya kacamata dipakai saat sedang dibutuhkan saja, tapi aku malah memakainya terus. Jadinya mataku malah menyesuaikan diri untuk melihat dengan kacamata dan lupa untuk kembali jika tanpa kacamata. Hm, suatu kemunduran.

Harapanku, aku ingin bisa lepas kacamata. Mungkin tidak perlu benar-benar melepasnya, tapi paling tidak bisa lepas dari ketergantungan itu. Saat ini banyak terapi mata yang bisa diterapkan dan sepertinya aku ingin mulai mencobanya. Aku tertarik dengan alat terapi mata yang diiklankan di TV, tapi isi dompet berkata lain. Saat ini hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mengembalikan mataku menjadi sehat seperti semula. Semoga kalian yang membaca tulisan ini bisa mendapatkan penglihatan yang baik, mata yang sehat.

Iklan

4 comments

  1. sejak SD kelas 3 aku sudah harus berkacamata minus 2 kanan,dan minus 2,5 kiri,susahnya mnjadi manusia berkacamata sdh bertahun2 aku alami, sampai saat ini hampir 22 thn aku berkacamata dan sekarang kacamata minus yang aku pakai sgt tebal -12 cyl 2 untk mata kanan dan -13,5 cyl 1,5 untk mata kiri,mandi sekalipun kacamata tetap aku pakai agar bisa membedakan antara pasta gigi, sabun, dan shampo,sungguh kacamata bgtu sgt mnyiksaku.

  2. wah,,saya jg udah blasan thn om, skrg udh mnus 7 ditambah cylinder jg jd nyaris buta klo kacamata dilepas…tp ttp hrs bersyukur nikmat yg msh d berikan tuhan 🙂

  3. waw, bikin blog baru lagi tus…
    Dulu liat orang pake kacamata keliatannya kok keren banget, tp ternyata lebih enak kalau tidak pakai kacamata. Serem banget ceritanya, liat wajah orang kabur, naik motor pemandangan kabur. Sayangnya, biaya lasik mahal banget…
    Mataku masih ‘nyaris’ normal kyknya. Dulu orang tua galak banget soal cara baca / liat TV, begitu aku mendekat ke TV dimarahi disuruh agak jauhan. Baca buku di kamar lampu redup dimarahi jg, trs dibeliin lampu desktop yg terang buat baca di kamar

  4. salam kenal… klo keponakan sy minus’y udh belasan mas,klo ga slh 13-an gitu,pdhl bru kls 3 SD.nice sharing mas,jdi sy bisa menyarankn keponakan sy utk tdk terus2-an memakai kacamata’y… smg keadaan’y mnjdi lebih baik ya… 🙂

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s