Tentang Aku dan Flu

“Punya riwayat penyakit?” Terakhir kali aku mendengar pertanyaan itu adalah ketika aku mengikuti interview di tempat aku bekerja saat ini. Maksud dari pertanyaan itu identik mengacu pada penyakit-penyakit berat semacam asma, jantung, epilepsi, tifus, dan semacamnya. Apakah flu termasuk penyakit berat? Aku tidak tahu. Kalau dibilang flu adalah termasuk penyakit yang harus diantisipasi, maka… Ya, riwayat penyakit saya adalah flu. Ini adalah pengakuan tentang aku dan flu.

Datang tak dijemput

Aku tidak ingat akan apa yang membuatku menjadi orang yang rentan terkena flu ini. Kalau diingat-ingat, aku terkena flu ini mulai SMA, atau mungkin kuliah. Yang aku ingat, ada peristiwa dimana ketika aku bersin, teman-temanku sampai ramai menghitungi berapa kali bersinku membahana. Hahaha… tidak sopan!

Penyakit ini datang ke kehidupanku dengan tiba-tiba, bahkan tidak mau pergi sampai sekarang. Ini penyakit flu yang menahun. Bukan flu berat. Kadang muncul, kadang hilang. Dalam keadaan sehat pun aku masih bisa kena flu (artinya: tidak jadi sehat). Kalau flu itu menyerang sampai seluruh badanku panas, artinya aku memang sedang sakit. Ah, entahlah. Aku masih bingung dengan penyakit yang satu ini.

Rasanya itu…

Kalau sedang flu, ini adalah yang kurasakan: hidung terasa berair, rasanya seperti ada ingus yang perlahan merambat keluar, satu atau kedua lubang hidung terasa buntu, rongga hidung terasa gatal (yang membuat bersin), sesak (kalau terlalu sering bersin), mata ikut terasa gatal (kadang sampai berair), pusing, badan panas, badan lemas dan inginnya dibuat tidur rebahan, nafas panas. Kira-kira seperti itu.

Intinya, kalau aku sedang kena flu, mau aktivitas apapun rasanya tidak enak. Untuk bergerak rasanya malas dan selalu ingin dibuat istirahat. Apalagi bersinku memekakkan telinga, semua yang ada di sekitarku akan terganggu.

Pengobatan pertama

Umumnya, aku mengonsumsi obat flu yang biasa dijual di toko. Namun itu saja tidak cukup, mengetahui fluku datang dan pergi seenaknya sendiri. Akhirnya aku mencoba ke salah seorang dokter untuk diperiksa. Aku mendapatkan resep yang obatnya bisa dibilang mahal untukku. Dokter sebenarnya curiga kalau aku juga mengidap sinusitis. Namun aku menolak untuk periksa lebih lanjut, mengetahui biaya periksa dan obat bikin pusing.

Akhirnya dokter pun merekomendasikan aku untuk melakukan terapi yang disebut terapi sinar. Fungsi dari terapi ini adalah untuk mencairkan gumpalan-gumpalan lendir yang menyebar di seluruh wajahku, sehingga obat yang dikonsumsi bisa lebih maksimal dalam menyembuhkan sumber penyakit. Nah, sinar seperti apa, aku penasaran. Aku diminta untuk duduk bersandar dan dokter menyeret suatu alat yang besar agar lebih dekat denganku. Dia mengarahkan bagian alat serupa tangan robot, untuk diletakkan sejajar di kanan dan kiri kepalaku, tidak sampai menyentuh kulit. Ketika alat itu dinyalakan, rasanya hangat.

Entah bagian mananya yang disebut sinar. Mungkin gelombang yang melewati kepalakulah yang dimaksud. Aku pun dibiarkan duduk seperti itu selama beberapa menit. Rasanya enak, memang, dan yang namanya terapi harusnya dilakukan dengan rutin. Dokter mengatakan kalau setiap minggu aku harus melakukan terapi sinar ini secara rutin agar lendir-lendir itu tidak berkumpul kembali. Tapi… aku melarikan diri saat mengetahui besarnya nominal sekali terapi. Aku sampai menangis. Aku pun menyerah dengan pengobatan satu ini dan kembali dengan obat-obatan biasa.

Pengobatan kedua

Saat itu, aku belum mengenal BPJS, dan dokter itu memang membuka praktik pribadi yang tidak menerima BPJS atau Askes. Aku mendapatkan harapan lagi setelah kakak iparku merekomendasikan seorang dokter di sebuah rumah sakit. Di sini, aku bisa melakukan pemeriksaan melalui BPJS. Meskipun alurnya sedikit ribet, tapi aku benar-benar senang ada BPJS.

Akhirnya, aku pun berobat di dokter yang kedua ini. Dokter ini sangat enak untuk dibuat konsultasi. Hal yang diutarakannya pertama membuatku terkejut, akan sesuatu yang belum terpikirkan sebelumnya, yaitu aku punya alergi. Dia memintaku untuk tidak minum obat apapun selama seminggu ke depan, karena minggu depan aku harus kembali untuk menjalani tes alergi. Dokter juga memintaku untuk mencari tahu di internet tentang rhinitis alergy. Dengan tekad kuat, selama seminggu itu aku tidak minum obat apapun walaupun bersin-bersin semakin menggila.

Hari untuk tes alergi pun tiba. Aku ke rumah sakit dan menunggu dengan pasrah dan cemas. Sebelumnya aku sudah mempelajari jenis alergiku di internet dan tes alergi ini adalah untuk mengetahui apa saja yang membuatku alergi. Penasaran seperti apa tes alerginya, aku mencarinya juga di internet. Keberanianku diuji saat mengetahui kalau aku akan ditusuk jarum beberapa kali. Aku tidak takut jarum suntik, tapi kalau sampai berulang kali seperti itu… Aku pun memasuki ruangan untuk memulai tes alergi.

Aku akan menjelaskan tes alergi ini secara singkat. Pertama, aku diminta rebahan. Kedua, tanganku dicoret-coret dengan pulpen. Perawatnya membuat bentuk beberapa petak yang cukup banyak, yang rupanya akan menjadi tempat tusuk jarum nanti. Diberinya nomor untuk masing-masing petak. Ketiga, dengan telatennya perawat itu menggosok kulit tanganku dengan alkohol dan menusuk kulit tanganku dengan jarum yang ujungnya dengan salah satu sample alergen (yang membuat alergi). Hal ini dilakukan berulang kali dengan alergen yang berbeda. Aku melaluinya dengan 23 tusukan. Ouch! Akhirnya, selesai, dan dia menunggu beberapa saat sampai muncul bintik merah di tanganku. Perawat itu pun memeriksa dengan seksama dan mengisi form yang ada di tangannya. Hasil dari tes alergi itu adalah aku alergi debu rumah, bulu kucing dan anjing, kacang, pindang, dan kuning telur. OK, aku harus menjauhi semua itu. Tapi kacang, pindang, kuning telur? Aku tidak siap untuk berpisah dengan semua itu!

Dokter pun memberikan resep berupa obat minum dan obat semprot untuk alergiku. Jadi fluku ini memang karena alergi, karena dengan obat-obat itu dan menjaga pola makanku, bersin-bersin dan fluku jauh berkurang. Tapi kacang, pindang, dan kuning telur itu sesuatu yang sangat berat untuk dilepaskan. Aku masih bersin.

Fluku sekarang…

Aku masih flu dan bersin-bersin, terlebih kalau lupa minum obat. Dan aku masih nakal karena tetap memakan sesuatu yang harusnya dilarang bagiku. Sekarang tinggal kesiapanku sendiri, kapan aku benar-benar bisa meninggalkan makanan itu untuk bisa lepas dari fluku.

Iklan

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s