Tentang Aku dan Cita-Cita

Kecil atau besar, setiap orang memiliki cita-cita. Memang ada orang yang mengaku tidak memiliki cita-cita, tapi mereka memiliki mimpi, keinginan, sesuatu yang ingin dicapai. Itu semua sama. Kalian punya cita-cita, begitu juga aku. Berbicara tentang cita-cita, ada sesuatu yang ingin kubagikan. Inilah pengakuan tentang aku dan cita-cita.

Aku ingin menjadi…
Setiap guru, terutama SD atau TK, pasti pernah menanyakan cita-cita kepada muridnya. Aku juga mengalami hal yang sama. Aku lupa sudah berapa kali guru bertanya tentang cita-citaku di masa depan nanti. Saat itu, sesungguhnya aku tidak tahu apa itu cita-cita. Aku belum pernah diajarkan untuk membayangkan diriku di masa depan nanti. Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut-ikutan seperti teman-teman yang lain.

Jadi apa cita-citaku waktu kecil dulu?

Aku ingin menjadi insinyur, tanpa tahu apakah sebenarnya insinyur itu. Pengetahuanku akan insinyur hanya sebatas lagu “Susan Punya Cita-Cita” dan sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Tidak lebih. Dengan menjadi insinyur, aku bisa membangun gedung bertingkat. Benar-benar penyempitan makna kalau insinyur itu sebatas lulusan Teknik Sipil. Tapi bolehlah aku mau memilih cita-cita jadi apa saja. Selama aku masih kecil, aku memiliki kebebasan menjadi apa saja.

Insinyur adalah satu profesi yang umum menjadi cita-cita anak Indonesia, selain dokter, guru, dan tentara. Dan cita-cita selalu identik dengan profesi. Saat aku memilih insinyur sebagai cita-cita masa kecilku, aku benar-benar tidak memikirkan jenjang pendidikan seperti apa yang harus kulalui, berapa biayanya, dan ketrampilan apa saja yang harus kukuasai agar aku benar-benar menjadi seorang insinyur. Jika ditanya, aku cukup mengucapkan sebuah profesi yang tidak memalukan. Benar-benar jadi insinyur atau tidak, biarlah waktu yang menjawabnya.

Cita-cita yang sebenarnya…
Awalnya aku mengira kalau sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu saja. Ternyata tidak. Melalui sekolah, aku juga menemukan cita-citaku. Berbagai kegiatan yang kuikuti dan pengalaman-pengalaman yang terjadi selama SD sampai SMA, telah mempertemukan aku dengan sesuatu yang kuinginkan di masa depan nanti. Aku ingin menjadi seorang penulis.

Betapa aku menemukan ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, kepuasan dengan menulis. Ketika SD, melihat bagaimana teman-temanku berebut membaca tulisanku, membuatku bangga. Tak peduli dimarahi ibu karena terlalu banyak tengkurap dan menulis di atas tempat tidur, sampa akhirnya aku berkacamata, aku tetap tak pernah merasa benci dengan menulis. Ketika SMP, teman-teman mengenalku melalui novel tentang ninja, yang saat ini aku sendiri merasa malu kalau membacanya. Malu, tapi bangga. Bahkan setiap reuni, teman-temanku masih menanyakan bagaimana kabar novelku. Ya, mereka sudah tahu kalau aku sangat melekat dengan kegiatan menulis. Pertanyaan tentang berapa banyak buku yang sudah kuhasilkan, menjadi cambuk bagiku karena aku belum menelurkan satu bukupun. Terlebih lagi di SMA, aku seperti menemukan jati diri bahwa aku memang diciptakan untuk memahami kata-kata abstrak, menghasilkan kata-kata yang berlilitan, seolah aku seorang penulis muda. Cita-citaku diakui dan aku mendapatkan dukungan penuh dari guru Bahasa Indonesia dan pembina teaterku. Puisi, cerpen, seperti menjadi keseharianku. Bahkan aku sampai direkrut jadi tim majalah di Mojokerto. Kalau ada yang tahu majalah Peace, dulu aku kerja di situ saat masuk kelas XI.

Memasuki bangku kuliah, aku dihadapkan dengan berbagai hal baru, termasuk kemajuan teknologi. Seharusnya lebih memudahkan aku meraih cita-cita sebagai penulis, tapi aku justru semakin kehilangan arah dan meninggalkan kegiatan menulisku. Tapi keinginan itu masih ada. Buktinya aku mulai mengenal blog dan bertahan sampai sekarang. Keinginan menjadi penulis itu masih tetap ada.

Jika dibandingkan dengan hobi lainnya, menyanyi misalnya, ada beberapa peristiwa yang kadang membuatku kesal. Ketika SD, aku sering diminta untuk menyanyi di panggung Agustusan. Diundang (atau lebih tepatnya, diminta) saudara atau guru kesana-kemari untuk mengisi acara tanpa menyadari kalau aku cuma anak kecil, bisa capai, bisa lelah. Aku sedikit menyesal. Tapi aku tetap senang karena dengan talenta itu aku bisa mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan. Begitu juga dengan pengalamanku di SMP, ketika aku bergabung dengan grup karawitan yang bernama “Laras Ati”. Di sini, aku lebih dikenal menjadi penyanyi campur sari. Kalau ada yang mengundang kami untuk tampil, ya berangkat semua. Di sini aku merasakan suasana kekeluargaan yang sangat kuat, tidak terbatas usia. Tapi ya begitulah, untuk latihannya tidak kenal waktu. Aku yang bisa dikatakan lemah ini gampang drop.

Insinyur VS Penulis
Seperti yang telah kusampaikan sebelumnya, aku tidak terlalu mempedulikan cita-cita masa kecilku. Yang terjadi, terjadilah. Aku sudah memasrahkan semua kepada Tuhan untuk cita-cita itu. Beberapa bulan yang lalu, ketika aku sedang berpikir bebas, tiba-tiba aku mendapatkan pencerahan, bahwa sesungguhnya cita-cita itu sudah kucapai.

Insinyur, dalam bahasa Inggris engineer. Gelar jaman dulu Ir., sekarang Sarjana Teknik. Aku seorang lulusan Institut Teknologi dari jurusan Sistem Informasi. Yah, setaralah dengan teman-teman seangkatan di kampus teknik, walaupun gelarnya Sarjana Komputer. Jadi, dengan kata lain, cita-cita menjadi insinyur sudah tercapai. Heheh… Dan kenyataannya aku memang tidak benar-benar bercita-cita untuk itu. Jadinya aku bekerja dengan hal yang di luar bidang studi.

Apapun yang terjadi, semua yang kudapatkan itu kusyukuri, karena itu semua sangat mendukung cita-citaku yang sebenarnya. Menjadi seorang penulis, atau lebih tepatnya penulis yang tidak gaptek. Jadi aku tetap bisa menjadi seorang penulis yang mengikuti perkembangan jaman dan teknologi. Wow, kalau dipikir lagi, aku sangat bersyukur bisa dilahirkan menjadi diri sendiri, menjadi aku yang seperti saat ini.

Nah, untuk cita-cita sebagai penulis ini, aku masih merasa belum mencapainya. Tapi aku terus berusaha untuk itu, di sela-sela kesibukanku. Ternyata benar kata orang, yang namanya cita-cita, pasti selalu ada keinginan yang tak mudah dipatahkan. Selalu ada, selalu ingin. Dan untuk pencapaian pertama, aku ingin benar-benar menghasilkan sebuah buku.

Tentang harapanku…
Teman-teman yang sedang membaca tulisan ini, aku mohon doanya ya, agar bisa segera bertelur menghasilkan buku. Kemungkinan aku akan mengumpulkan tulisan-tulisanku yang terdahulu dan membukukannya dengan bantuan penerbit di internet. Semoga kalian juga bisa mencapai cita-cita kalian.

Iklan

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s