Tentang Aku dan Buku

Jika aku ditanya tentang hobi, tentunya aku akan menjawab kalau hobiku adalah menulis. Di samping itu, aku juga akan menempatkan kegiatan membaca sebagai nomor duanya. Meskipun aku masih berjuang untuk benar-benar melakukannya, tapi dua hal ini selalu berhasil membuatku merasa nyaman dan menjadi diri sendiri. Maka tak heran jika benda yang dekat denganku adalah buku. Ada hal yang ingin kubagikan mengenai cara pandangku akan sebuah buku. Inilah pengakuan tentang aku dan buku.

Buku pertamaku
Aku tidak bisa mengingat tepat buku bacaan apa yang pertama kali mengisi hari-hariku. Namun, kalau tidak salah, ada berbagai buku fabel yang kumiliki. Bukunya kecil dan tipis. Bukunya terdiri dari beberapa halaman saja dan tulisan yang tidak begitu banyak. Setiap halaman disertai gambar sesuai dengan narasinya. Aku lupa penerbit mana yang mengeluarkan buku itu. Yang pasti, berbagai judul fabel yang dikeluarkannya dimunculkan semua di halaman belakang, membuatku ingin mengoleksi semuanya. Dua judul fabel yang paling kuingat adalah Tupai Bertanduk Domba dan Bangau yang Congkak.

Nasib buku tulis
Buku kedua yang menemani masa kecilku adalah buku tulis. Hahaha… Ya, teman yang teraniaya. Dulu aku sangat gatal melihat bagian tengah buku tulis. Aku selalu ingin mencabutnya dari staples tengah, lalu mengubahnya menjadi bacaan empat halaman. Jika ada buku tulis pelajaran yang halaman kosongnya masih banyak, aku pasti membuang bagian yang sudah terisi (materi pelajaran yang dulu) dan menjadikannya buku cerita. Seandainya aku punya mesin cetak buku sendiri, aku pasti akan membuat banyak buku, begitu pikirku waktu kecil dulu. Apa daya, yang kupunya hanya tangan dan pensil.

Buku pelajaran VS Buku fiksi
Saat sekolah dulu, aku hanya akan memegang buku pelajaran ketika butuh saja. Selebihnya, aku akan meninggalkannya. Dan hanya bertahan ketika buku itu sedang dipakai untuk keperluan pendidikanku. Setelah naik kelas, buku pelajaran hanya akan membisu di dalam laci sampai akhirnua dibuang atau diberikan kepada adik kelas.

Beda halnya dengan buku fiksi, sesaat setelah membelinya, aku akan langsung membacanya jika sedang sangat ingin. Kemungkinan kedua, aku akan menyimpannya sampai buku itu mendapatkan giliran untuk kubaca. Aku mungkin tidak langsung membacanya, bahkan saat ini masih ada buku yang belum terbaca. Namun, aku melihat semua buku itu sangat berharga. Dan sesungguhnya aku akan merasa sangat berat hati jika meminjamkan, memberikan, atau bahkan kehilangan buku-buku yang pernah kubeli.

Tentang membeli buku
Toko buku adalah tempat yang sangat menyenangkan bagiku, seolah tempat ini adalah sebuah wahana hiburan. Tinggalkan aku di toko buku, maka aku akan bisa bertahan di sana sampai toko tutup. Ketika berjalan menyusuri buku-buku yang tertata di toko buku, batinku selalu berteriak, “Bukuku nanti juga akan ada di sini.” Meskipun aku masih berusaha untuk merealisasikan hal itu.

Di antara semua bagian toko buku, yang selalu kudatangi pertama adalah bagian buku diskon. Hehehe… Biar orang bilang kere, tapi aku punya prinsip akan apa yang kulakukan ini. Bagian diskon di toko buku memang identik dengan buku-buku lama yang tidak segera terjual habis. Namun, apakah itu artinya bukunya jelek? Belum tentu. Aku sering menemukan buku-buku bagus di bagian ini, dengan harga diskon tentunya. Bisa dibayangkan, rasanya seperti menemukan mutiara di dalam kubangan lumpur. Aku mencari buku bagus, bukan buku baru. Tapi sesekali juga aku ingin membeli buku di rak-rak reguler.

Hal-hal menyenangkan dari buku
Dari buku baru, aku paling suka dengan baunya. Bau buku baru itu unik dan menenangkan, sama seperti bau tanah ketika hujan pertama (petrichor). Selain itu, memiliki bertumpuk-tumpuk buku, apalagi sampai punya lemari atau ruangan khusus buku itu memunculkan rasa puas tersendiri. Sama seperti tulisan yang banyak dalam sebuah blog. Kemudian, berbagai pengetahuan dan hal baru sangat mungkin muncul dari buku-buku ini. Membuka mata, membuka pikiran, membuka wawasan, memperkaya imajinasi, menambah referensi, mengasah kreativitas, dan semua hal yang memungkinkan untuk mempertajam kemampuan menulisku. Karena menulis saja, tanpa banyak membaca, kemampuan tidak akan berkembang. Itulah sebabnya aku suka membaca.

Iklan

One comment

  1. Wah, keren bang. Paling berkesan, ketika saya juga berada di toko buku. Itu waktu seperti berjalan dengan sangat cepat. Saya bahkan sempat berfikir, pengen banget punya perpustakaan sebesar Gramedia.

Tinggalkan komentar di sini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s