Tags

“Ini merupakan tulisan saya sebagai kontributor di Majalah Peace, Mojokerto (Januari 2012)”
Di antara teman-teman seperjuangan saya di kampus, mungkin saya adalah yang paling sedikit makannya (untuk sementara ini). Kalau teman-teman saya berpikir tubuh saya kecil karena kurang makan, ow itu salah besar. Pernah suatu periode dimana nafsu makan saya gila-gilaan, tapi badan saya tetap seperti ini.
Saya ingin berbagi cerita tentang makanan anak kuliahan. Semoga cerita ini bisa memberikan sedikit gambaran kepada pismania tentang kehidupan kampus nantinya. Kalau ada yang menyeramkan, jadi bisa siap-siap mulai sekarang. #tawamengancam.
Ketika kita masih tinggal di rumah, makanan bukanlah suatu hal yang diperhitungkan. Ibu kitalah, atau mungkin juga ayah, yang akan memikirkannya. Tanpa perlu pusing mempersiapkannya, sarapan – makan siang – makan sore – makan malam, makanan mungkin akan selalu ada di rumah, meskipun hanya nasi kecap dan garam. #mengenaskan. Kita hanya sesekali membeli makan atau jajan di luar. Ya, makanan bukan hal yang diperhitungkan karena kita hanya menerima apa yang diberikan oleh orang tua.
Ketika hidup jauh dari rumah, misalnya kos di luar kota untuk kuliah, bisa dipastikan kita akan mendapatkan kepercayaan oleh orang tua untuk memegang sejumlah uang lebih daripada uang saku yang selama ini didapatkan waktu sekolah. Saat itulah kita akan memiliki perhatian pada makanan.
Di kampus saya, tanpa bermaksud meninggikan atau merendahkan, mahasiswa di sini membutuhkan energi yang cukup besar untuk belajar, sehingga mereka membutuhkan asupan makanan yang ‘super’. Meskipun tidak semua, tapi mayoritas seperti itu. Kemampuan ekonomi mahasiswa di sini juga tidak tinggi-tinggi amat. Jadi melihat keadaan tersebut, menjamurlah warung-warung dengan harga murah porsi segudang, kalau tidak mau dibilang porsi kuli. #mengerikan. Rasa? Karena murah, maka kita tidak bisa memaksa penjualnya untuk rasa hotel bintang lima. Tapi jika kita beruntung dan rajin wisata kuliner, kita akan menemukan yang harga, porsi, dan rasanya sesuai dengan selera kita. Ada goreng-gorengan, sayur-sayuran, penyet-penyetan, dan kawan-kawannya.
Lain ladang, lain ilalang. Perbedaan budaya bisa menyebabkan perbedaan pada makanan, baik dari segi jenis, kuantitas, kualitas, maupun harga. Di kampus tetangga, dengan harga yang tidak beda jauh, porsinya akan lebih manusiawi dan rasanya mungkin lebih enak.
Akhirnya, ini akan menjadi sebuah pertimbangan, dimana kita harus memilih antara rasa, porsi, dan harga. Oh iya, gizi makanan dan kebersihan tempat makan juga akan masuk dalam pertimbangan. Mungkin nama tempat makan, style, rekomendasi teman, dan diskon juga akan membuat kita makin pusing memikirkannya.
Stop!
Keputusan kembali di tangan pismania juga akhirnya. Selera boleh beda. Yang jelas, jangan sampai telat makan, bahkan tidak makan sama sekali gara-gara takut uang sakunya habis. Jika bisa memilah mana yang baik dan tidak baik dimakan, tentu lebih baik. Karena makanan yang baik akan membuat tubuh kita jadi baik, sehingga kita bisa terus belajar dan berprestasi.
#paragrafcurcolmulai. Nah, makanan apa yang saya sukai? Secara umum, saya suka telur. Saya suka makanan yang simple seperti nasi goreng dan gado-gado. Untuk lauk, saya suka ayam dan ikan mujair. Untuk jajanan, saya suka singkong yang gorengannya sampai pecah-pecah. #yummy. Fast food? Suka, tapi sekali-kali saja. Dan bagaimana pun juga, paling enak itu masakan ibu di rumah. #paragrafcurcolselesai.
mas Lambertus, kok bisa jadi kontributor majalah Peace, wah asik. Jadi inget masa SMP dulu, SMPN 1 Ngoro. Waktu SMP, aku langganan majalah Peace. Sejak SMA di SDA, jadi udah mulai jarang beli. Majalah Peace ini sangat bagus sebagai wadah pelajar mojokerto, daerah lain belum tentu ada……
halo, saya dr kampus tetangga (unair) hehehe
kl di kampus saya sih, kantinnya matok harga yg sdikit lbh tinggi drpd warung kebanyakan di luar. jadinya saya lebih suka makan di luar saja. #edisicurcol :p
Pingback: Yaay, Sidang!! | Catatannya Sulung
Owalaaah, nancep banget artikelnya
hihihi betul sekali, kadang suka males makan kalo udh capek hbs pulang kul
Btw, lama ga berkunjung, tampilan blognya makin menarik aja nih, lambertus
Ha….. zaman saya kost dulu ngga jauh dari mi instan. Pagi, siang dan malam, menunya selalu sama. Syukur sekarang masih hidup. Hahahaha……
lagi-lagi makanan… hahahaha
wah mas nya orang mojokerto y?
sama dong saya daerah jabon.
btw salam kenal u
salut saya sama anda bro,,
salam kenal juga dari saya,,,kunjungan pertama 2012,,salam kenal…
eh, kakak jadi kontributor majalah? kereeen!

dan, terima kasih tips makanan anak kuliahannya~
(siap-siap jadi anak kuliahan)